Kamis, 11 Desember 2008

Daging Menumpuk, Selera pun Memuncak

Bicara soal puncak memuncak, kali ini saya baru terasa puncaknya kenikmatan (hus... ngomong apa sih).. hehe.. maksudnya kenikmatan akan rezeki yang diberikan Tuhan pada saya sangat terasa di hari raya Idul Adha kemarin.

Saya yang berencana akan pulang mudik ke kampung halaman dengan mengambil cuti tahunan dari kantor, jadi tepat tanggal 7 desember 2008 atau (H-1) saya lepas landas dari palembang menuju provinsi jambi tempat saya dilahirkan, (lepas landas naik bis bukannya naik pesawat heheh).

Sesampai di kampung halaman, saya disambut hangat oleh keluarga saya, ada ayah, ibu, kedua saudara perempuan saya (the sister) dan adik laki-laki saya, mereka sudah menunggu sejak pukul 10 malam diloket pemberhentian bis tadi. Alasan kuat kenapa saya ingin pulang mudik ialah tidak lain karena ingin merasakan lagi masakan ibu saya yang berbahan dasar daging.

Karena lebaran Haji adalah lebaran qurban, diamana umat islam merayakan dengan mengurbankan hewan qurban dan dibagikan kepada masyarakat sepertinya ini adalah saat tepat untuk turut merayakan bersama keluarga tercinta.

Lontong, yups makanan itu yang telah memicu saya untuk pulang mudik dan menyantapnya, secara sudah 1 tahun eh salah udah 3 bulan gak nyicipin lontong buatan ibu saya, (kemarin udah pas hari raya idul fitri, hehe) nah selain lontong adalah masakan lain yang saya idam-idamkan ialah Sup Wortel buatan Ibu.

Sup wortel ini adalah masakan yang saya gemari, sebab ibu saya menyuguhkan sup wortel dikarenakan saya tiap hari selalu berhadapan dengan komputer dan untuk mencegah mata ini dari keminusan, itu sebabnya ibu saya menyuruh saya untuk rajin mengkonsumsi wortel. Sampai-sampai kemarin dibuat jus wortel buat saya, karena selama di palembang saya jarang mengkonsumsi sayuran segar.

Keluarga saya berasal dari Padang, artinya ibu saya yang berdarah minang ini diwarisi kemampuan memasak yang super lezat, seperti yang anda ketahui kalau masakan khas padang pasti sangat mengugah selera namun tetap dengan ciri khasnya selalu menyajikan masakan super pedas.

Nah berhubung hari raya qurban dan kebetulan keluarga kami banyak memperoleh daging kurban, jadilah ibuku mengeluarkan jurus jitunya dalam megolah makanan yang berbahan dasar daging, sebut saja : Rendang, Dendeng Balado, ada juga namanya Gulai Baga, trus ada Sate padang. Semua makanan itu dibuat ibu saya untuk merayakan momen idul adha ini.

Selera makan saya makin hari makin bertambah, secara masakan yang disajikan enakkkk banget, itung itung sekalian perbaikkan gizi maklum anak kost makannya gak beraturan hehe. Hari pertama ibu saya menghidangkan Rendang, Sup Wortel, Longtong sayur dengan Gulai Nangka dan kacang panjang plus ayam cincang, Pempek ( ini saya bawa dari Palembang ),
Lalu dihari kedua ibu saya menghidangkan kembali Dendeng Balado, Gulai Baga, Sop Daging dan Sate Padang. wah. wah. wah.. baru 3 hari dirumah badan saya serasa naik... (semoga aja nggak)

Tetapi dihari kedua ini saya tidak bisa terus menuruti selera saya pasalnya saya mengalami panas dalam karena kebanyakan makan makanan pedas dihari pertama, saya merasa aneh dulu sebelum saya jadi anak kost rasanya tubuh ini anteng anteng aja kalau makan makanan pedas, namun sekarang serasa mudah goyah. Cepat sakitnya, badan juga serasa sakit sakit dan mata selalu mengantuk jika dihari siang. Hmm... saya merasa aneh,.. kira-kira kenapa ya..? ada yg tau gak?

Nah berikut visualisasi aja tentang makanan yang saya ceritakan diatas, sumber dapat diklik di label gambar, selamat menikmati ^_^ :

4 komentar:

Au' mengatakan...

Dibawa ke Pa;embang enak kali tu am

trendy mengatakan...

malek jingok daging aku am!
wkeekekekke!

Piyoh mengatakan...

Wah,kamu terkena syndrome batmanisasi,makan daging tiap hari,ngantuk di siang hari.hati2,kata nenek itu berbahaya..solusi,pakailah baju ala soneta group trus nyanyi begadang boleh2 saja kalo ada perlunya...
bertobat ya ham.hehe

coffeeoriental mengatakan...

wew.. ilham di daging-in ckmn ye?