Selasa, 10 Februari 2009

Bagai Emas Yang Tak Berharga

Menjadi seseorang yang suka membantu orang lain, tentulah sangat menyenangkan, apalagi kalau kita sudah memberikan sumbangsih besar kepada orang yang kita bantu, namun apa jadinya kalau niatan kita untuk membantu sudah terlaksana tetapi bantuan kita seoalah-olah tidak dihargai hanya karena ada sedikit kesalahan yang membuat orang yang kita bantu malah jadi repot ?

Rasa sakit tentu saja datang jika bantuan kita itu dikambing hitamkan atas masalah yang timbul, berbagai macam alasan timbul akibat efek ini, seperti "kurang inilah", "Terlalu itulah". Padahal selama ini bantuan tersebut sangat memberi dampak besar bagi yang menerima bantuan.

Perlu kita cermati bahwa setiap manusia didunia ini pasti mempunyai kesalahan, dan manusia yang pintar adalah manusia yang mau mengakui kesalahan dan berusaha agar kesalahan itu tidak terulang lagi.

Namun bagaimana klo kita merasa tidak bersalah? ada yang beranggapan bahwa "manusia pada umumnya selalu memandang dari sebelah sisi, tetapi tidak pernah memandang dari sisi sebelahnya", Pembelaan pasti selalu ada jika kita terpojokkan, "It's Fair", manusiawi kan klo seseorang berusaha membela diri, namun jika kondisi itu sudah tidak mendukung pembelaan kita dan kita baru sadar memang kita salah, apa salahnya kalo mencoba untuk mengakui kesalahan dan menerima kenyataan yang sebenarnya.

Posisi selalu menjadi faktor utama dalam ketidakadilan sebuah persoalan, yang bawah pasti kalah dan yang diatas selalu benar, namun semua itu bagi saya hal yang biasa dalam sebuah interaksi dengan manusia lain. Memang awalnya sangat terasa sakit, tapi pasti semua ada hikmahnya.

6 komentar:

Erik mengatakan...

Setuju dg yg Am sampaikan.

Seringkali manusia sulit mengakui kesalahannya disebabkan egonya

Aan mengatakan...

emang Am, kadang yang salah membalikkan diri menjadi benar. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya

rhani3 mengatakan...

Setuju am, aku juga sedang ngerasain itu, saat kita berniat baik, justru niat baik itu yg membuat kita jadi tidak berharga, jadi kayak emas yang ga' berharga

mencobahidup mengatakan...

Halo bang dah lama tak basuo,ikhlas saja bang. Semoga niat baik kita dibalas dengan yang lebig baik lagi oleh Sang Pencipta

yoga mengatakan...

benar twuh . . .

memang kadang yang salah ga mengakui kesalahannya

http://bayusmart.wordpress.com

borsalino mengatakan...

mmhhhh ...
cukup banyak yg piawai berteori namun bila sudah masuk ke aplikasi pelaksanaan sehari-hari jadi memble.

saya pernah bertemu bahkan berdiskusi tak kurang dari 4 jam hanya 4 mata dengan orang yang hebat bila menyampaikan sebuah teori.

isi teori itu
"lihatlah segala sesuatu itu dari berbagai sudut pandang. jangan hanya melihat sebuah titik hitam pada dinding yang putih."

namun kenyataannya ... teori itu hanya sebatas teori. orang tersebut belum mampu mengaplikasikan teori yang dimiliki ke dalam kehidupan sehari-hari.

"sulit .. itu sangat sulit," ucapnya saat itu.

well ...
semua orang pasti punya sisi gelap dan terang. tinggal bagaimana kita memanfaatkan sisi gelap itu untuk kebaikan bersama.

bahkan seorang umar, mampu bangkit dari sisi gelapnya dan maju membela yang benar hingga dijuluki singa padang pasir.

saya selalu memandang segala sesuatu dari sudut pandang positif. meski sesuatu itu terlihat gelap, namun kegelapan tak akan bisa dilihat bila tak ada secercah titik putih.